Kamis, 10 Mei 2018

Tetes Bulan Desember 2017

Tetes, Desember 2017

Kumpulan Tetes demi Tetes di Bulan Desember 2017

 

Tak Ada yang Sejati dan Abadi

 •   •  Dibaca normal 1 menit

Tidak ada Pemerintah, Kaisar, Jenderal, Raja, Presiden, Konglomerat dan siapapun yang sejati menguasai dunia, kecuali Tuhan sedang memegang kedua kaki mereka atau mencengkeram leher mereka sampai waktu yang Ia tentukan untuk membenturkan mereka ke tembok kebenaran-Nya.

Tidak ada kegagahan yang sejati dan abadi, tidak ada kehebatan yang sejati dan abadi, tidak ada kesaktian keampuhan kemegahan yang sejati dan abadi, kecuali Tuhan meminjamkannya untuk menguji mereka yang diuji.

https://www.caknun.com/2017/tak-ada-yang-sejati-dan-abadi/ 
**********

Puasa Kata-Kata

 •   •  Dibaca normal 1 menit







Akibat Merendahkan Dongeng

 •   •  Dibaca normal 1 menit

Direndahkannya dongeng merupakan salah satu cara untuk memisahkan bangsa kita dari sejarahnya. Menghapus masa silamnya. Mengubur peradaban yang pernah dicapai oleh para leluhur.
Sehingga bangsa kita menjadi kosong pengetahuan tentang diri mereka sendiri.
Berikutnya bangsa kita menjadi tidak percaya diri. Dengan kata lain, bangsa kita menjadi tidak percaya bahwa ada sesuatu yang bisa dibanggakan di dalam sejarah nenek-moyangnya.

https://www.caknun.com/2017/akibat-merendahkan-dongeng/ 
*********

Merendahkan Bangsa Sendiri

 •   •  Dibaca normal 1 menit





Budak Bangsa Lain

 •   •  Dibaca normal 1 menit





Ketiadaan Batas

 •   •  Dibaca normal 1 menit

Peradaban teknologi dan kebudayaan dibangun dengan pilar angka, padahal toh lenyap di infinitas. Tuhan menganugerahkan kemerdekaan seolah tanpa batas, padahal kemerdekaan adalah alat untuk menentukan batas, tapi kemudian batas-batas dibatalkan oleh ketidak-terbatasan atau ketiadaan batas.

https://www.caknun.com/2017/ketiadaan-batas/ 
**********

Hanyalah Tunggal

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Segala sesuatu, apapun, jagat raya, alam semesta, hanyalah satu. Hanyalah tunggal. Hanyalah Sang Maha Tunggal. Sang Hyang Maha Tunggal menggeliat, meregang, menghembuskan maha-nafas, berlagak memuaikan dirinya, menciptakan konsep 1, 2, 3, 4, miliaran, triliunan, sampai tak terhingga.
 Dan semua regangan-Nya memerlukan waktu sangat lama untuk menemukan sesungguhnya mereka semua hanya bagian dari Tunggal.

https://www.caknun.com/2017/hanyalah-tunggal/ 
**********

Berposisi Doa

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Coba kalau 7 ayat Al-Fatihah digelindingkan berputar 5 kali, sesudah itu pada putaran ke-6 ayat ke-6 atau ke-41 kalau dari awal: ternyata adalah maqam makhluk manusia yang memanggul tugas kekhalifahan: “Ihdinash-shirothol mustaqim”.
Hidup manusia berposisi doa, berposisi belum atau sedang. Sedang berjuang sepanjang hidup hingga hijrah melalui maut, untuk mendapatkan ridha Allah.

https://www.caknun.com/2017/berposisi-doa/
**********

Posisi Ihdinash-shirothol mustaqim

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Dalam urusan diridlai atau tidak diridlai oleh Allah, masuk sorga atau neraka, tersesat atau tidak tersesat, bersertifikasi Muslim atau Kafir, tidak ada manusia yang bisa memastikan dan dipastikan. Tidak berposisi untuk menuduh Kafir, bahkan tidak berposisi untuk meyakini diri Muslim.
Semua manusia berada di tahap “Ihdinash-shirothol mustaqim”.

https://www.caknun.com/2017/posisi-ihdinash-shirothol-mustaqim/ 
**********

Menyatu dengan Allah

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Jika kita menjadi cahaya–karena bersih dari tindak korupsi ekonomi, penindasan politik, kecurangan sosial, penyelewengan hukum serta maksiat kebudayaan–maka insya Allah itulah yang bernama tauhid. Menyatu dengan Allah: Allah nurus-samawat wal-ardl.

https://www.caknun.com/2017/menyatu-dengan-allah/
**********

Muhammad Tidak Kuno

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Muhammad tidak pernah disebut “kuno”, meski kita punya Mercedes paling mutakhir, superkomputer, serta segala jenis teknologi yang paling dibangga-banggakan.
Muhammad tidak pernah dikategorikan sebagai manusia masa silam dengan muatan nilai-nilai dekaden, meski kita telah memiliki apa pun yang melambangkan pencapaian-pencapaian kontemporer.

https://www.caknun.com/2017/muhammad-tidak-kuno/ 
**********

Sebab Hancurnya Bangsa

 •   •  Dibaca normal 1 menit

Hancurnya bangsa tidak terutama terletak pada gagalnya manajemen pengelolaan negara, tidak pada kekayaan bumi rahmat Tuhan menjadi adzab bencana, tidak terletak pada budaya korupsi total, atau tidak pernah tercapainya harapan untuk masyarakat adil makmur. Itu semua hanya akibat.
 Karena sebab utamanya adalah manusia bangsa kita sudah tidak memiliki pagar yang jelas antara serius dengan main-main, antara baik dengan buruk, antara benar dengan salah, antara mulia dengan hina, antara malu dengan bangga.

https://www.caknun.com/2017/sebab-hancurnya-bangsa/ 
**********

Dagang Informasi

 •   •  Dibaca normal 1 menit








Tidak Membandingkan Nasib

 •   •  Dibaca normal 1 menit

Yang kaya tidak ada alasan untuk menyimpulkan ia lebih sukses dibanding yang miskin. Sebab hidup di dunia tidak ada kaitannya dengan pencapaian dunia.
Yang berkarier memuncak dengan jabatan, pangkat, kemasyhuran dan harta benda, tidak perlu bodoh untuk menganggap yang lain yang tidak mencapai itu semua berada di bawahnya, di belakangnya atau di tempat lain yang marginal.
 Pun yang saleh alim khusyuk sangat religius ahli wirid pakar ibadah dan apapun, sama sekali dilarang dungu untuk merasa lebih mencapai keberhasilan dibanding yang lain.

https://www.caknun.com/2017/tidak-membandingkan-nasib/  

Ke Keduniaan atau ke Akhirat

 •   •  Dibaca normal 1 menit


Kalau kesalehan dipentaskan sebagai sukses hidup di dunia, menjadi cacatlah kesalehan itu. Apalagi harta pangkat karier kekayaan yang dianggap pencapaian dunia, maka merosot jadi lebih rendahlah ia dibanding dunia. Shalat khusyuk bukan pencapaian dunia, melainkan tabungan akhirat. Akhlak yang baik bukan citra keduniaan, melainkan batu-bata jalanan ke sorga.

Uang banyak adalah pencapaian dunia, sedangkan manfaat uang itu adalah sukses akhirat. Harta bertumpuk menjadi keberhasilan dunia atau akhirat bergantung pada pengolahan kompatibiltasnya, ke keduniaan atau ke akhirat.



Mendekatkan Jarak dengan Allah

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Silakan memilih apa saja yang membuatmu bergerak mendekat ke Allah dan membuat Allah mendekat kepadamu. Tidak peduli kegembiraan atau kesengsaraan, asalkan membuat Tuhan dan engkau berdekatan.
Tidak peduli uang sedikit atau banyak, rumah besar atau kecil, mobil atau sepeda, hafal Qur`an atau tidak, jadi presiden atau kuli pasar, hidup mapan atau gelandangan, apapun saja, asalkan engkau olah menjadi alat untuk mendekatkan jarak antara Tuhan denganmu.

https://www.caknun.com/2017/mendekatkan-jarak-dengan-allah/ 
**********

Bekal Ilmu

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Orang yang menjalani hidup di jalan keinginan, cukup berbekal nafsu, ditambah sedikit ilmu yang kompatibel dengan nafsunya itu. Tapi orang yang melakoni kehidupan mencari yang ia butuhkan, bekal yang ia perlukan sejak awal adalah ilmu.

https://www.caknun.com/2017/bekal-ilmu/
**********

Muhammad Hadir Kembali

 •   •  Dibaca normal 1 menit

Muhammad senantiasa hadir kembali. Muhammad senantiasa lahir dan lahir kembali: memunculkan “diri”-nya dalam setiap konteks pemikiran, manifestasi peradaban dan kebudayan, serta dalam setiap produk dan ungkapan kemajuan. Muhammad tidak pernah mati, kecuali darah daging dan tulang belulangnya yang telah manunggal dengan tanah. Badan Muhammad telah bertauhid dengan hakikatnya, yakni tanah itu.
Muhammad yang hidup sekarang bukan lagi jasmani itu, karena telah ditransformasikan ke dalam wujud-wujud yang lebih lembut dan hakiki. Setiap transformasi selalu berlangsung dengan pengurangan, penambahan, perubahan, dan pergeseran. Darah daging Muhammad tidak terbawa sampai kepada kita sekarang, apalagi ke negeri Allah yang hakiki kelak.

https://www.caknun.com/2017/muhammad-hadir-kembali/ 
**********

Ambisi Pribadi

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Kalau sekadar cita-cita menjadi presiden, pengusaha sukses, tokoh berprestasi, orang kaya dan yang semacam-macam itu, sangat mudah mencapainya. Apalagi di zaman sekarang ini, di mana siapa saja dianggap pantas menjadi apa saja.
Di zaman di mana ukuran yang berlaku adalah kepentingan pihak yang berkuasa, yang menguasai modal dan perangkat-perangkat sejarah. Tetapi yang begitu-begitu itu namanya bukan cita-cita, melainkan ambisi. Jelasnya, ambisi pribadi.

https://www.caknun.com/2017/ambisi-pribadi/ 
**********

Karier Memalukan

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Jika kita punya seratus piring nasi hari ini dan jutaan piring nasi untuk makan sampai ke masa depan, sementara orang lain hari ini belum pasti akan bisa makan sepiring nasi — itu bukanlah pencapaian cita-cita. Itu sukses karier pribadi.
 Dan karier pribadi itu memalukan di tengah sesama makhluk di jagat raya, apalagi di hadapan Maha Pencipta dan Pemilik Sejati segala sesuatu.

https://www.caknun.com/2017/karier-memalukan/
*********

Melampaui Maut

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Segala sesuatu yang dibatasi oleh mati, bukanlah sukses. Sukses adalah suatu pencapaian yang melampaui maut, yang abadi melintasi kematian, mengalir hingga titik simpul di mana awal dan akhir menyatu.

https://www.caknun.com/2017/melampaui-maut/
**********

Bukan Capaian Cita-cita

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Seandainya pun sukses yang dicapai tidak hanya berlaku pribadi, melainkan berlaku se-Negara atau se-Dunia, tetapi terbatas pada kemakmuran, sandang pangan beres, transportasi lancar, papannya gedung-gedung pencakar langit, sampai pun bisa berkomunikasi dengan teman di kutub utara memakai jari-jari sambil buang air besar, ditambah merebaknya balon-balon maya di atas kepulauan Nusantara — itu bukan pencapaian cita-cita.
Itu teknologi dan peradaban yang tidak berlaku lagi begitu jantung manusia berhenti berdetak.

https://www.caknun.com/2017/bukan-capaian-cita-cita/ 
**********

Adil Makmur

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Kemakmuran sungguh-sungguh tidak bisa menjadi parameter primer dari sukses kehidupan. Indonesia anak bungsu yang sedang online hari-hari ini, dibekali oleh Bangsa yang melahirkannya dengan pedoman sangat sederhana namun sanggup mengantarkan mereka menuju sukses sejati dan abadi.

Yakni: Adil Makmur. Bukan Makmur Adil. Kalau kemakmuran ditempuh sebagai tujuan utama, semua peradaban menjalaninya melalui jalan ketidakadilan.
Sebaliknya jika keadilan yang ditempuh, maka kemakmuran akan menemukan karakternya yang lebih luas dan multidimensional bagi manusia dan kemanusiaan.

https://www.caknun.com/2017/adil-makmur/ 
**********

Keadilan dan Kemakmuran

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Keadilan adalah kemakmuran yang sejati. Kemakmuran yang berdiri sendiri, akan selalu melanggar keadilan, dan sibuk mengembangkan ilmu dan metode untuk mengkamuflase ketidakadilan supaya tampak sebagai keadilan.
Lelaku adil melampaui mati, kemakmuran sia-sia karena setiap orang hanya punya satu kepastian: menunggu giliran mati.
 Dan manusia benar-benar akan mati kalau ilmunya menyangka bahkan meyakini bahwa yang disebut mati itu sungguh-sungguh mati.

https://www.caknun.com/2017/keadilan-dan-kemakmuran/
**********

Cita-cita Muhammad

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Masuk sorga itu pasti bagi Muhammad, tetapi ia mengisi malam-malamnya dengan tangis. Masuk sorga adalah pencapaian pribadi, dan Baginda Muhammad tidak bergembira-ria merayakan itu.
Sebab hinalah bagi kepribadian beliau untuk bangga dan gembira oleh pencapaian pribadi.
Yang disebut cita-cita oleh Baginda Muhammad adalah keadilan akhlak ummat manusia di Bumi, perkebunan luas rahmatan lil’alamin, yang buahnya adalah kemakmuran rohani dan bonus kemakmuran jasmani.

https://www.caknun.com/2017/cita-cita-muhammad/ 
**********

Filsafat, Akar Ilmu

 •   •  Dibaca normal 1 menit

Orang hidup tidak bisa mengelak dari filsafat, meskipun tidak setiap orang perlu menjadi ahli filsafat. Narik becak saja harus ada landasan filsafatnya, yang tercermin pada pemahamannya kenapa dia narik becak, niatnya apa, manfaatnya apa.
Filsafat itu kan akar ilmu. Kalau kita narik becak tanpa fisolofi hidup yang jelas, misalnya niat mensyukuri anugerah badan sehat atau mencari nikmatnya membanting tulang untuk menghidupi anak istri, kita jadi mudah lelah.

https://www.caknun.com/2017/filsafat-akar-ilmu/
**********

Spekulasi

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Semua hal dalam hidup ini ya spekulasi, kecuali yang sudah terjadi. Padahal begitu terjadi, ia langsung menjadi masa silam. Yang kita hadapi setiap detik adalah sesuatu yang kita belum tahu, sehingga posisi kita selalu adalah spekulasi.
Supaya spekulasi itu tidak membosankan dan membuat kita putus asa, kita wujudkan menjadi usaha terus-menerus, kerja keras dan doa kepada Tuhan.

https://www.caknun.com/2017/spekulasi/ 
**********

Politik

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Politik adalah mandat penataan keadilan dan kalau bisa disertai kesejahteraan bagi yang memandati untuk dikerjakan oleh yang dimandati, karena mereka digaji sangat besar.
Tetapi yang disebut politik saat ini adalah peluang lima tahunan bagi mandataris politik untuk mencari laba pribadi dan golongan, dengan cara menipu-daya para pemberi mandat, meracuni mereka, menyihir mereka, meninabobokkan mereka.

https://www.caknun.com/2017/politik/ 
**********

Dunia = Ilustrasi

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Dunia ini dirancang Tuhan memang untuk sekadar hiasan. Dunia ini dikonsep bukan sebagai substansi, melainkan ilustrasi. Ilustrasinya jangan melebihi dan mengalahkan substansinya.
Itu bodoh dan pasti rugi sendiri.
Apalagi karena terlalu mensubstansikan ilustrasi maka manusia melakukan korupsi, perebutan, penjajahan, perampokan, penindasan, penguasaan, sekadar untuk berhias beberapa saat.

https://www.caknun.com/2017/dunia-ilustrasi/ 
**********

Semua Berdzikir

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Apa yang tidak berdzikir: nafasmu, detak jantungmu, mengalirnya darahmu, berputarnya sel-sel terkecilmu. Tuhan memberitahukan bahwa semua yang di langit dan bumi bertasbih kepada-Nya, shalat kepada-Nya, berdzikir dan wiridan kepada-Nya.
Tidak hanya manusia dan makhluk hidup lainnya. Tapi juga gunung, angin, daun, embun, asap, ikan-ikan dan burung-burung. Bahkan burung disebut langsung oleh Tuhan sebagai contoh makhluk yang bertasbih dan sholat.

https://www.caknun.com/2017/semua-berdzikir/
**********

Pergilah Bercermin

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Cobalah engkau beranjak dari kursi, pergilah ke cermin. Sejenak saja. Tataplah wajahmu, badanmu, pakaianmu, dan seluruh penampilanmu. Lihatlah warna pakaianmu dan katakan “Itulah warna kesukaanku”.
Kemudian pandang wajahmu, hidung dan bibirmu, dan katakan kepada dirimu bahwa itu semua jangan sampai dihubungkan dengan rasa suka atau tak suka. Karena wajah, hidung dan bibir yang ada padamu itu bukanlah hakmu.

https://www.caknun.com/2017/pergilah-bercermin/ 
**********

Egois

 •   •  Dibaca normal 1 menit

Yang dimaksud orang egois adalah orang yang seakan-akan adanya dirinya itu berasal dari dirinya sendiri. Jadi, sebelum ada dirinya, sudah ada dirinya dulu.
Dan kelak, sesudah tak ada dirinya karena larut dengan tanah kuburan, ternyata masih ada dirinya, entah yang mana.

https://www.caknun.com/2017/egois/
**********

Budaya dan Firman

 •   •  Dibaca normal 1 menit




Sanggup Mengubur Diri Sendiri

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Orang yang bisa berangkat tidur tanpa mengingat Allah dan tetap nyenyak meskipun hari itu ia belum minta maaf kepada pihak yang disalahinya, orang yang berani berkata gagah dan muluk dalam keadaan dirinya menyakiti orang lain – adalah orang yang kelak kalau mati ia sanggup menguburkan dirinya sendiri.

https://www.caknun.com/2017/sanggup-mengubur-diri-sendiri/
*********

Ilmu Dajjal

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Ilmu dajjal itu mata satu, tapi kemudaratannya beribu-ribu, yakni ilmu membelah. Hitam dan putih, kami dan mereka, aku dan dia, sini dan sana, atas dan bawah. Kita benar mereka salah.
Dajjal adalah aktualisasi paling transparan dari sifat jahiliyah, yakni kepandaian yang bodoh, kecanggihan yang mencelakakan dirinya sendiri.

https://www.caknun.com/2017/ilmu-dajjal/
**********

Tidak Ilmiah

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Orang yang dalam hidupnya bersikap seakan-akan Allah tidak ada, adalah orang yang bersikap tidak ilmiah terhadap realitas objektif eksistensinya.



Orang Tak Perlu Menolongnya

 •   •  Dibaca normal 1 menit

Orang yang tangannya bergerak mengerjakan sesuatu dan bersikap seolah-olah dia sendirilah yang menciptakan tangan itu, sehingga Allah tidak terdapat di dalam peta kesadarannya — adalah orang yang sangat mandiri, sehingga kalau ia mengalami kesulitan, orang lain tidak perlu menolongnya.



Sakit Tak Perlu Obat

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Orang yang bersikap gagah dan kuat dalam hidupnya, bahkan memiliki keberanian untuk menggagahi orang lain, adalah orang yang kalau ditimpa sakit — ia tidak memerlukan obat, sehingga siapapun tidak perlu memberinya obat.

https://www.caknun.com/2017/sakit-tak-perlu-obat/
**********

Yang Menentang Allah

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Orang yang hidupnya penuh keberanian kepada Allah, sehingga berani mengabaikan eksistensi-Nya, berani meremehkan qadla dan qadar-Nya, bahkan berani menentang perintah-Nya — adalah orang yang memiliki kesanggupan untuk memberi perintah kepada jantungnya untuk bekerja atau berhenti, kapan saja ia mau.

https://www.caknun.com/2017/yang-menentang-allah/ 
*********

Acuh Tak Acuh Terhadap Allah

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Manusia modern adalah makhluk Tuhan yang kesadaran primernya bukan ingatan diri sebagai makhluk Tuhan, melainkan kesadaran yang ia sangka paling rasional bahwa dirinya adalah seseorang yang mandiri, bebas, merdeka, tidak memerlukan guru, tidak membutuhkan mursyid, acuh tak acuh terhadap tuntunan Allah.
Tidak ada siapa pun yang mewasiati apa pun kepada manusia modern, karena firman Allah tidak bisa disahkan sebagai rujukan bagi ilmu mereka.

https://www.caknun.com/2017/acuh-tak-acuh-terhadap-allah/
********* 

Sedang Tuhan Berendah Hati

 •   •  Dibaca normal 1 menit
Tidak ada umat Allah di dalam penciptaan makhluk-Nya yang melebihi keangkuhan manusia era modern yang sikapnya sangat sinis dan kasar dalam hal tidak bersedia digurui.
Sedangkan Tuhan berendah hati berpura-pura menanyakan kepada hambaNya: “Katakan apa kesulitanmu, mintalah jalan keluar kepadaKu, nanti Kukabulkan”

https://www.caknun.com/2017/sedang-tuhan-berendah-hati/ 




emha-ainun-najib-caknun-mbahnun

  • Muhammad Ainun Nadjib
Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) melakukan dekonstruksi pemahaman nilai, pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi masalah masyarakat.



  • Emha Ainun Nadjib
Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) menelusuri alam(default)nya manusia dan kehidupan, mengijtihadi (mengkhalifahi)(mengkreatifi)(custom, carangan) budidaya sosial (dari ulat-kepompong-kupu hingga politik dan peradaban) agar memasuki masa depan yang segelombang dengan yang dirancang dan diwujudkan oleh Maha Pengqadla dan Pengqadar.
==============================

Posting by Suyadi Jossmart

 
 

Berzigzag Rally Panjang Motor Nasib - Daur I No. 010

Berzigzag Rally Panjang Motor Nasib

 •   •  Dibaca normal 3 menit

Kalau engkau merasa berjaya dan menang, aku wajib mengajakmu memasuki makna kejayaan dan kemenangan yang lebih inti dan sejati. Terus menerus tanpa henti meng-inti dan men-sejati.

Kalau engkau merasa gagal dan kalah, aku wajib, sebagaimana yang kulakukan atas diriku sendiri, menghajarmu dengan kesadaran yang lebih pedih dan menyakitkan tentang kegagalan dan kekalahan.
Atau kita lakukan sesuatu yang lain sama sekali. Macet pekerjaan fisik, kita beralih ke rohani. Rohani lumpuh, pindah ke berpikir. Berpikir buntu, pindah ke keringat. Keringat membuat kita terengah-engah, gendong anak, diayun-ayun dengan lagu derita yang penuh kesedihan namun diam-diam menumbuhkan kegembiraan yang aneh.

Dan seterusnya. Kita bertarung melawan dinamika diri kita sendiri. Kita taklukkan jiwa kita sendiri. Kita atur mental kita, mesin berpikir kita, lalu lintas hati kita. Kita khalifahi pengalaman hidup ini sampai muncul samar-samar kehadiran dan keterlibatan Sang Penyayang di setiap sekon perjuangan kita.
Aku tidak menganjurkan dari tengah kesulitan hidupmu itu engkau mencariku atau siapapun, mencari siapapun di luar dirimu, kecuali tajalli-nya Allah dan berlangsungnya peran syafaat kekasih kita bersama Muhammad, dari era Nur hingga zaman bin Abdullah menuju kelak Nur kembali.

Engkau memperingatkan dirimu sendiri. Engkau menceramahi dirimu sendiri. Engkau menasehati dirimu sendiri. Di dalam galih jiwa dan akal pikiranmu, engkau meneguhkan bahwa keadaan yang mengerikan itu sama sekali tidak harus menjadi beban bagi hidupmu. Karena menurut janji Kekasih kita, beban hidupmu hanyalah sebatas yang engkau sanggup menyangganya.

Engkau wanti-wanti dirimu sendiri: cukuplah engkau tekuni pencarian dirimu di dunia sampai kelak berjumpa dengan-Nya, cukupkan engkau tingkatkan pembuktikan kasih sayang dan tanggung jawabmu kepada keluarga, betapapun sulitnya itu, bahkan seringkali serasa mustahil. Dan jika pikiran membawamu mengembarai bahkan memasuki neraka dunia yang mengerikan itu, bersegeralah memohon ampun kepada Tuhanmu, kemudian mewakilkan masalah itu kepada-Nya.

Engkau tetapkan undang-undang sosial di dalam dirimu, bahwa satu kesalahanmu jauh lebih besar dari seribu kebenaranmu. Sejumput keburukanmu mensirnakan segunung kebaikan yang kau lakukan bertahun-tahun.
***

Hingga satu jam sebelum tengah malam, jelas bagimu bahwa untuk berikhtiar bagaimana membayar hutangmu, engkau harus menunggu besok pagi. Apalagi masalah-masalah lain yang juga membelitmu: bagaimana mungkin di tengah malam buta bisa engkau lakukan upaya-upaya membereskannya, sedangkan hal itu menyangkut orang ini dan orang itu yang saat ini sedang tidur nyenyak bersama keluarganya.

Sementara sudah kau pejam-pejamkan mata, tak kunjung bisa kau masuki ketidaksadaran dan tidur. Jangankan nyenyak. Seluruh files masalahmu tidak mau surut, terus menempel di benakmu ketika engkau tak bisa tidur maupun ketika terkadang setengah tidur.

Akhirnya engkau tenggelam sampai ke dasar laut kesadaran hidupmu. Engkau tergeletak tak bisa bangun. Tergeletak dan entah bagaimana tiba-tiba saja muncul kata “cinta” di dalam pikiranmu. Cinta itu memuai, membengkak, membesar, hingga memenuhi seluruh ruang pikiranmu. Engkau marah karena tersiksa dan merasa aneh. Engkau pukul-pukul cinta itu, engkau tendang-tendang, engkau cabut dari dirimu dan Engkau usir keluar dirimu.

Ternyata ia menjadi sosok. Tergeletak di sisimu. Engkau termangu-mangu menatapnya. Muncul silang sengkarut pertanyaan-pertanyaan, serabutan ketidakmengertian.

Setelah engkau mengalami kehidupan di muka bumi lebih 60 tahun, engkau menemukan di kedalaman yang sunyi dari samudera kalbumu, bahwa persaudaraanku dengan siapapun yang berdasarkan hubungan darah, kalah tinggi kemuliaan nilainya dibanding persaudaraan yang bersumber dari kesamaan iman. Kemudian ternyata persaudaraan iman kalah tinggi, pun kalah mendalam, dibanding persaudaraan yang kandungannya adalah cinta sejati.

Apa-apaan ini? Mungkin seluruh kompleksitas masalah dan kebingungan hidupmu sedang mengidentifikasi, menyusun, merumuskan dan merangkai bangunan nilainya sendiri, tanpa engkau kehendaki.

Tentulah persaudaraan sedarah yang bermuatan kesamaan iman dan kesatuan cinta sejati adalah harmoni yang paling sempurna, pada ukuran keterbatasan manusia. Tetapi persaudaraan kesedarahan bisa retak oleh tiadanya keseimanan dan apalagi kecinta-sejatian. Bahkan persaudaraan keseimanan ternyata pula bukan hanya bisa menghancurkan persaudaraan kesedarahan, lebih dari itu bahkan sejarah membuktikan fakta-fakta kebencian, pertengkaran, pengkafiran, pemusyrikan, perang, pembunuhan, bahkan peniadaan dan pemusnahan di antara saudara-saudara seiman, meskipun di antara mereka ada yang saudara sedarah.

Akan tetapi pertalian antar manusia, bahkan pun tidak dengan sesama manusia, melainkan dengan makhluk-makhluk lain umpamanya hewan atau jin — yang kandungan utamanya adalah cinta sejati: selalu masih menyisakan ruang bagi persaudaraan kesedarahan maupun keseimanan.

Apa ini?

Apakah beberapa Malaikat sedang membantumu mempetakan masalah-masalahmu? Ataukah jiwamu sedang meracau? Ataukah ketidakberdayaan mentalmu sedang memaksa pikiranmu untuk melamun kesana kemari tanpa bisa Engkau kendalikan?
***

Aku tahu yang Engkau maui dan nanti-nantikan adalah jawaban frontal atas problem-problemmu. Suatu cara penyelesaian yang pragmatis, efektif, syukur efisien.

Tetapi alam gaib jiwamu malah membawaku ke dasar laut abstrak, selama Engkau tak bisa tidur menunggu pagi tiba. Apakah itu yang disebut jalan keluar melingkar? Strategi siklikal? Mungkin pola spiral antara sebab ke akibat dan antara akibat menuju pengubahan akibat menjadi sebab baru yang lebih menyelematkan hidupmu?

Ataukah Tuhan sedang menginstruksikan kepada staf-Nya untuk memboncengkanmu naik Motor Nasib untuk berzigzag dalam rally-rally yang panjang? Itu pun melajunya sangat berat untuk melaju karena lapangan dan jalanannya di dasar laut?

Engkau pusing kepala olehnya atau pelan-pelan belajar menikmatinya?


Dari cn kepada anak-cucu dan jm
10 Pebruari 2016


Sumber : https://www.caknun.com/2016/berzigzag-rally-panjang-motor-nasib/



Kehancuran Tanpa Ralat Daur# I No.09

Kehancuran Tanpa Ralat

 •   •  Dibaca normal 3 menit


Bagaimana kalau engkau naik motor bersama istri dan dua anak kecilmu, motormu diserempet mobil. Motormu rusak di atas 50%. Istrimu luka agak parah. Anak bayimu gegar otak ringan. Kakaknya Alhamdulillah tidak terkena suatu apa.

Mobil yang menyerempetmu itu dikendarai oleh anak petinggi negara. Karena menyerempet motormu, mobil itu tak bisa dikendalikan sehingga menabrak pohon. Salah seorang penumpangnya meninggal dunia. Beberapa yang lainnya luka ringan. Kecuali sopirnya yang sakit parah dalam dadanya karena terbentur setir.

Polisi yang bertugas akhirnya tahu punya siapa mobil itu. Juga tahu bahwa yang meninggal adalah salah seorang putra pejabat negara itu. Ini peristiwa serius. Tidak ada manusia siapapun di muka bumi ini yang mau kehilangan anggota keluarganya. Apalagi karena kecelakaan. Itu mengubah secara sangat mendasar dan hampir total susunan pikiran, atmosfir batin dan struktur kesadaran siapapun yang mengalaminya.

Maka kemudian dalam proses penanganan hukum kecelakaan itu, harus engkau yang disalahkan. Segala pemutarbalikan dan manipulasi fakta berlangsung dan terasa sebagai perjuangan kebenaran, demi membela anak yang mati. Subyektivisme dan kepentingan sepihak menjadi alur utama proses hingga ke pengadilan.
***

Engkau tidak punya saksi kecuali pernyataanmu sendiri tentang yang engkau alami. Tak seorang pun yang ketika itu berada di tempat kejadian bersedia terlibat bersaksi. Karena berbagai macam sebab: tidak mau terlibat kasus hukum. Tidak mau menjadi saksi yang jujur tapi nanti oleh kekuasaan aparat hukum dan pengadilan malah dituduh memberikan kesaksian palsu.

Serta berbagai sebab dan latar belakang yang lain: trauma terhadap budaya hukum negara kita. Tidak mau habis waktu untuk terseret proses hukum. Sedangkan untuk cari nafkah sehari-hari saja sudah membuat hatinya hampir pecah dan pikirannya buntu.

Bagi khalayak ramai, peristiwa kecelakaan semacam itu tidak ada urgensinya untuk dipelihara dalam ingatan. Begitu kegaduhan di jalanan itu berlalu, mereka pelan-pelan atau bahkan langsung melupakannya. Jangankan serempetan antara mobil dengan motor. Meskipun ada ratusan bom, walaupun ada uang trilyunan dicuri oleh Pemegang Amanah Rakyat, biarpun ada Pembesar Negara omong besar dan janji besar kemudian bohong besar dan ingkar besar, pun sudah tidak menjadi ingatan utama masyarakat.

Publik sudah selalu melupakan segala sesuatu yang sangat besar, bahkan yang ajaib, yang dalam segala teori ilmu, pengetahuan dan pengalaman sejarah: mustahil dilupakan. Keajaiban sudah beralih ke wilayah lupa itu sendiri. Rakyat negeri ini lupa secara ajaib, acuh tak acuh secara ajaib, salah sasaran menyembah secara ajaib, salah tembak kutukan secara ajaib.

Sepanjang sejarah sejak Nabi Adam ada dua mesin manusia: akal sehat dan akal tidak sehat. Di abad terbaru ini ada mesin canggih ketiga: yakni akal ajaib. Sedemikian ajaibnya akal bangsa terutama negeri ini sampai-sampai yang tertinggal hanyalah keajaiban, sedang akalnya hilang.

Dominasi keajaiban dan hegemoni lupa serta hampir sirnanya logika dan kesadaran membuat rakyat, masyarakat, publik, kelompok, bahkan per manusia, membuat mereka sama sekali tidak bisa membedakan lagi mana hak mana kewajiban. Mana atas mana bawah. Mana kiri mana kanan. Mana baik mana buruk. Mana benar mana salah. Mana mulia mana hina. Mana malu mana bangga.

Bahkan sudah menjadi sangat samar-samar perbedaan antara Tuhan, Satria Piningit, Imam Mahdi, Ratu Adil, Preman, Boneka dan Robot. Sudah direlakan secara akal pikiran maupun kejiwaan bahwa seorang budak dilantik sebagai Nabi. Seorang badut dilantik sebagai Rasul. Seorang Kumprung dinobatkan sebagai Dewa. Seorang Pekatik dijunjung sebagai Raja.
***
Dan engkau, sehabis peristiwa serempetan itu, meringkuk dalam kesengsaraan hidup, tanpa ada batas kapan kira-kira ujungnya.

Engkau didenda, atau dihukum kurungan. Motormu tak tercover karena kau tak punya biaya.

Pekerjaanmu terbengkalai. Keluargamu ambruk. Istri dan anak-anakmu bekerja dan hidup darurat. Ada di antara familimu bersimpati dan sedikit-sedikit menolongmu. Tapi sebagian besar dari saudara-saudara sedarahmu menghindar dari kewajiban untuk menolong. Atau karena mereka sendiri tak kalah susah dan repotnya dengan hidup mereka masing-masing.

Peran-peran sosialmu di masyarakat jadi mandeg. Di takmir Masjid. Di Paguyuban itu. Sejumlah fungsi keorganisasian jadi macet. Nama baikmu terbelah. Sebagian teman-teman, tetangga-tetangga dan masyarakat umum bersimpati kepadamu. Tetapi tak kurang di antara mereka yang turut menyalahkanmu, menegasi eksistensimu, bahkan mensinisimu dan membuangmu dari peta hati dan kesadaran mereka.

Posisimu yang terpuruk dalam kehidupan dunia, yang hanya satu kali ini, tidak pernah dilihat, diperhatikan, apalagi direspon atau dibela oleh siapapun. Kehancuran tak diralat oleh bangunan nilai kehidupan ummat manusia, meskipun di Negara Hukum. Sampai usiamu tua, sampai dipanggil Tuhan ke rumah aslimu, sejarah dan ingatan masyarakat tetap mencatatmu sebagai orang yang bersalah dan cacat hukum.

Dan mereka yang melalimimu, yang mencampakkanmu sekeluarga ke lembah yang gelap, dicatat oleh sejarah sebagai figur yang sebaliknya. Mereka orang menang. Mereka orang yang sukses. Mereka orang yang kaya dan sejahtera. Sekian bersaudara ada yang menjadi pejabat negara, ada yang menjadi tokoh cendekiawan, ada yang menjadi ustadz, ada yang menjadi pengusaha kaya raya. Pengusaha kaya raya ini pada suatu hari mengeluarkan biaya untuk merenovasi masjid tempatmu dulu menjadi anggota takmirnya, menjadi masjid baru yang lebih besar dan jauh lebih megah.

Dan salah satu anakmu menjadi muadzdzin di masjid itu. Anakmu yang lain menjadi karyawan di perusahaan si kaya raya itu.

Apa katamu? Bagaimana bunyi orasi pikiranmu dan nyanyian di hatimu?

Engkau sukses atau gagal? Engkau kalah atau menang?

Apa itu sukses? Apa itu menang?

Kalau engkau sukses, nikmatilah sukses. Kalau engkau menang, kenyamlah menang. Kalau engkau gagal dan kalah, siapa yang menolongmu?

Tuhan. Tuhan pasti menolong setiap hamba-Nya yang berposisi akhlak untuk ditolong. Tapi kapan? Bagaimana bentuknya? Seberapa interval waktunya? Sama atau tidak dengan bentuk atau wujud yang kau bayangkan tentang kemenangan dan kesuksesan?

Dari cn kepada anak-cucu dan jm
Yogyakarta 9 Pebruari 2016


sumber: https://www.caknun.com/2016/kehancuran-tanpa-ralat/




Khoiron? Yaroh Syarron? Yarroh Daur# I No.08

Khoiron? Yaroh   

Syarron? Yaroh

 •   •  Dibaca normal 3 menit

Kalau Allah bikin pasal “Siapa melakukan kebaikan meskipun sezarrah akan memperoleh balasannya, dan siapa yang melakukan keburukan meskipun sezarrah akan memperoleh balasannya” — menurutmu bagaimana prosedur dan eksekusi teknisnya?
 
Apakah kalau engkau memukul seseorang maka sesaat berikutnya engkau akan dipukul secara sepadan dan di tempat yang sama, entah siapa yang memukul? Apakah kalau aku mengutil sejumlah uang maka sesaat berikutnya aku akan kehilangan uang sejumlah yang sama? Apakah kalau seseorang menyakiti hati seseorang lainnya maka mendadak berikutnya ia juga akan disakiti hatinya entah oleh orang yang ia sakiti atau oleh lainnya?

Dalam hal ini perlu dicatat atau syukur bisa dirumuskan beberapa hal. Apakah suatu perbuatan jahat akan meresikokan pembalasan perbuatan jahat yang sama jenis dan kadarnya? Apakah asal-usul pembalasan kejahatan adalah sama dengan sasaran kejahatan sebelumnya? Siapa yang berhak menjadi pelaku pembalasan kejahatan?

Berapa lama pembalasan atas kebaikan atau kejahatan itu akan terjadi? Langsung? Beberapa jam kemudian? Besok atau lusa atau minggu depan? Atau bulan depan, tahun depan, sepuluh tahun lagi, kelak beberapa waktu sebelum si jahat mati, ataukah kelak di akherat?

Apakah lamanya waktu berbanding lurus dengan tingkat atau kadar kejahatan yang diperbuatnya? Apakah semakin tinggi nilai kejahatan yang diperbuat akan dibalas semakin cepat, ataukah justru semakin lambat? Apakah lambat atau cepatnya pembalasan atas kejahatan berbeda antara kejahatan pribadi dengan kejahatan lembaga, institusi, kelompok, atau bahkan misalnya yang dilakukan secara struktural oleh kelompok penguasa di sebuah negara?

Apakah balasan atas kejahatan yang bersifat kontan atau tunda itu berkaitan dengan jenis kejahatannya, kadarnya, jenis karakter dan sejarah pelaku kejahatan itu, ataukah ada kriteria-kriteria tertentu yang tidak mungkin diketahui dan dirumuskan oleh pikiran maupun kehendak manusia — termasuk kemauan pihak yang dijahati?

Masih banyak lagi liku-liku, lipatan-lipatan, putaran dan tikungan, detail, labirin, dimensi-dimensi yang samar, serta berbagai titik atau simpul fenomena nilai beserta anomali-anomalinya, yang mungkin perlu dicari, meskipun mungkin banyak yang tak kan pernah bisa dipetakan dan dirumuskan.
***

Apakah orang yang rajin berbuat baik tidak memperoleh balasan kecuali kebaikan juga di dalam lingkup waktu yang sama dengan perbuatan baiknya?

Bagaimana kalau ternyata banyak fakta bahwa orang yang berbuat baik justru mendapat balasan keburukan yang bahkan berlipat-lipat? Bahkan kenyataan itu tidak berakhir sampai tiba kematiannya?

Lebih dari itu: kebaikan-kebaikannya tak pernah ditorehkan di lembaran sejarah pada ingatan orang banyak, dan justru ia dicatat secara sangat seksama sebagai orang buruk?

Apakah orang yang hidupnya bermanfaat baik secara sosial dipastikan mendapatkan manfaat-manfaat kebaikan juga dari lingkungan sosialnya, pada interval waktu yang sama antara produk manfaatnya dan pendapatan manfaatnya dari semua yang ia beri manfaat?

Bagaimana kalau terdapat sangat banyak contoh dalam kehidupan bahwa sampai ia tinggal nama di nisannya, tidak dicatat oleh siapapun produksi-produksi kemanfaatannya? Dan jika pun ada fakta kemanfaat itu dalam kehidupan masyarakat luas: namun tidak dikaitkan dengannya sebagai pelaku kebaikan yang penuh manfaat?

Apakah orang yang memperbuat kemashlahatan kepada sesama manusia dan rajin beribadah kepada Allah, konstan menjaga iman dan akhlaknya, tidak memperoleh nasib apapun kecuali kemudahan hidup, kemakmuran rumah tangga, kemudahan usaha, citra sosial yang baik, sukses perjuangan hidupnya dan senantiasa mendapat perlindungan dari Allah dari bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh sesama manusia?

Bagaimana kalau engkau sendiri mengalami bahwa ketekunanmu menyebarkan kemashlahatan itu tidak membuat orang banyak mempercayaimu? Bahwa kekhusyukan dan kerajinan ibadahmu tidak membuatmu punya citra baik di mata khalayak ramai?

Karena, misalnya, bagi masyarakat sekelilingmu orang baik adalah orang yang suka bagi-bagi uang, menyumbang pembangunan masjid atau rutin berbuka puasa dengan anak-anak yatim di Bulan Ramadlan, meskipun uang yang dibagi-bagi itu adalah hasil pencurian atas hak kekayaan dan harta masyarakat yang menjunjung-junjungnya?
***

Dan orang-orang yang berbuat keburukan, merugikan orang lain, menyebar kemudharatan, menaburkan penderitaan dan menyebabkan kesengsaraan banyak orang — apakah mereka tidak akan menjumpai apapun kecuali langkah yang keserimpet-serimpet, perjalanan hidup yang penuh kesulitan, bertemu dengan yang serba mencelakakannya, jauh dari kegembiraan dan kebahagiaan, dan akhirnya terjerembab dalam kehancuran?

Bagaimana kalau engkau justru dikepung oleh kenyataan-kenyataan sosial bahwa orang-orang macam itu malah dijunjung dan dipuja-puja oleh masyarakat? Baik karena disinformasi maupun karena rusaknya logika berpikir masyarakat?

 Bagaimana kalau para penjahat politik, para perampok harta rakyat yang tak kentara, para perusak akal sehat dan penghancur logika itu justru dilantik oleh pandangan umum sebagai pahlawan?

Apakah orang atau kelompok yang menganiaya, yang menjajah, yang menipudaya, yang menginjak-injak hidup banyak orang, hidupnya akan terbanting-banting, jatuh dan terjerembab, terlunta-lunta, sengsara hatinya, ambruk keluarganya, kemudian mati dalam keadaan yang terhina

Bagaimana kalau permukaan bumi ini sangat banyak dihuni oleh pelaku-pelaku kelaliman structural dan penggerak-penggerak system pembodohan danpemiskinan, yang kehidupan keluarganya kasat mata sakinah mawaddah warahmah gemah ripah loh jinawi?

Sebaliknya mereka yang dianiaya, dijajah, direndahkan, ditipu dan dihina, disongsong oleh keberkahan hidup, justru tidak sehat raganya, sakit-sakitan tubuhnya, uring-uringan jiwanya, sama sekali tidak sakinah keluarganya, jauh dari sejahtera penghidupannya, perjuangan hidupnya seolah dihindari oleh kemudahan, bahkan luluh lantak terbengkalai dan terjerembab karier hidupnya?
***
Sedangkan referensi dari Tuhan sangat efisien: yang berbuat baik akan yaroh, yang berbuat buruk juga yaroh. Ya. Hanya yaroh. “Ia melihat” (hasil perbuatannya).

Dari cn kepada anak-cucu dan jm
Februari 8 Pebruari 2016


sumber: https://www.caknun.com/2016/khoiron-yaroh-syarron-yaroh/



Anak Asuh Bernama Indonesia Daur# I No.07

Anak Asuh Bernama Indonesia

 •   •  Dibaca normal 3 menit







Atau engkau sudah tua, udzur dan siap-siap berhijrah ke kehidupan yang berikutnya. Tetapi keadaan yang telah kau temani berpuluh-puluh tahun bukan bertambah baik, melainkan bertambah hancur luluh lantak. Engkau sekeluarga bersama istri dan anak-anak cucu-cucumu mungkin tidak sangat mendasar penderitaannya. Tetapi masyarakatmu, Negaramu, kebudayaan dan peradaban yang mengepungmu, sama sekali bukan bahan-bahan yang enak dikenang nanti sejak di kuburan hingga ke alam barzakh.
***
Engkau masih muda belia atau sudah tua renta terkurung oleh posisi di mana engkau tak bisa berbuat apa-apa atas situasi-situasi di sekelilingmu. Keadaan yang jauh lebih rusak dari yang pernah engkau pelajari atau bayangkan tentang kerusakan. Situasi gila yang lebih gila dari segala kegilaan yang pernah engkau saksikan dan pahami.

Susanana kemanusiaan, suasana politik, kebudayaan, bahkan yang kelihatannya sudah dilandasi dengan iman dan taqwa kepada Tuhan, yang lebih hina dan rendah dibanding segala kehinaan dan kerendahan yang pernah engkau gambar di alam pikiran dan pembelajaran hidupmu.

Karena engkau orang yang bersungguh-sungguh dalam memikirkan dan merenungi segala sesuatu, maka engkau merasa sangat tertekan oleh — misalnya — situasi dunia di mana manusia mengagung-agungkan negara dengan meyakini bahwa ia lebih berkuasa dari kuasa Tuhan.

Para penguasa mendewa-dewakan jabatannya sambil mempercayai bahwa kekuasaannya melebihi hakekat pergantian siang dan malam. Negara dan para penguasa yang duduk di singgasana menyangka dirinya berposisi di atas para Nabi dan Rasul yang resonansi amanat di tangannya berlaku sampai hari kiamat.

Bahkan mereka berpikir bahwa Tuhan bukan hanya tidak berkuasa atas diri mereka, lebih remeh dari itu: Tuhan bisa diperdaya, dimanfaatkan, ditunggangi, diregulasi, dimanipulir, diperalat, dijadikan properti kamuflase, pemalsuan dan penggelapan. Tuhan diangkat menjadi Kepala Dinas pengabulan doa, merangkap Kepala Divisi Intelegen yang tugasnya menyembunyikan kejahatan para penguasa, atau menutupi aib-aib mereka.

Itulah sebabnya mereka sangat percaya diri untuk menyelenggarakan penjajahan tak henti-hentinya, dengan menggenggam nama Tuhan dan seluruh staf-Nya di seluruh alam semesta sebagai alatnya.

Mereka menerapkan tipu daya yang terus menerus di-upgrade metode dan strateginya, dengan mengolah, membolak-balik, merekayasa dan memanipulir nilai-nilai Tuhan, ajaran-ajaran-Nya, kalimat-kalimat-Nya, untuk kepentingan pragmatis kepenguasaan mereka atas seluruh aset kekayaan bumi.

Mereka menjalankan proyek pembodohan sangat massal di seluruh permukaan bumi, melalui sekolah-sekolah dan universitas-universitas atau lembaga-lembaga kependidikan di luarnya, terutama juga melalui media massa, memanfaatkan kelemahan mental para petinggi negara, menunggangi inferioritas karier kaum cerdik pandai, serta mempermainkan rahasia keserakahan dunia para pemimpin agama.
***

 Suasana rusuh seperti itulah yang dalam waktu yang terlalu lama meracuni ruang batin kemanusiaan sangat banyak orang, termasuk saudaraku yang beberapa kali kuceritakan di tulisan-tulisan sebelumnya. Jiwa saudaraku itu terbakar di setiap siang dan membara di setiap malam, sehingga hidupnya dipenuhi oleh kemarahan dan terkadang amukan.

Pernah aku omong sangat pribadi dengan saudaraku itu. “Kau mau apa? Kamu bunuh semua orang dholim itu dari Istana Negara hingga Balai Desa? Berapa jumlah mereka? Berapa tahun atau berapa puluh atau ratus tahun yang kau perlukan untuk membunuhi mereka satu per satu, atau sepuluh per sepuluh, atau dengan bom-bom dahsyat seratus per seratus? Sedangkan temanmu kemarin melakukan bom bunuh diri dan hanya dirinya sendiri yang mati oleh bom yang disandangnya?”

Saudaraku itu sangat yakin akan kewajiban “nahi munkar”, mencegah atau melawan segala kemunkaran, penjajahan, ketidakadilan, kecurangan, penipuan massal oleh media-media komunikasi. Seberapa skala yang ia mampu? Sekampung? Sekecamatan? Sekabupaten seprovinsi? Atau dari Sabang hingga Merauke? Atau di seluruh permukaan bumi?

Seberapa banyak mesiumu? Bagaimana strategi perangmu? Sudah tepatkah pengenalanmu terhadap peta medannya? Sudah kau hitung kekuatan musuh-musuhmu? Sudah kau pilah berapa orang di berbagai level dan segmen yang wajib dibunuh, yang cukup dipotong tangan atau kakinya, yang hanya dipenjara, atau yang masih bisa kau ajak memasuki kebenaran yang kau yakini? Mana draft pemetaan perang yang kau selenggarakan?

Atau kau sekedar akan menyelenggarakan revolusi, atau mungkin lebih lunak: reformasi? Atau penggal kepala kedhalimannya saja: kudeta? Siapa nanti tokoh nomer satu pemerintahanmu? Siapa saja menteri-menteri dan pejabat-pejabat kuncimu? Mana, perlihatkan kepadaku susunan kabinetmu.
***

Aku akan mencari waktu untuk membeberkan apa yang kumaksudkan itu secara lebih rinci, sekaligus meluas dan mendalam. Tetapi hari ini aku titip dua pertanyaan kecil, untuk kau bawa dan olah dalam pikiranmu, atau kau buang — itu sepenuhnya merupakan kedaulatanmu.

Seberapa jauh, seberapa luas, seberapa menyeluruh, seberapa mendasar kelak Tuhan melalui staf-Nya menagih tanggung jawabmu tentang semua hal-hal besar yang membuatmu jadi pemarah dan pengamuk itu.

Bagaimana kalau mulai nanti malam engkau coba elus-elus dengan kelembutan hatimu dan kejernihan pikiranmu kata-kata berikut ini:  “Indonesia adalah salah satu dari sekian anak asuhmu”.

Dari cn kepada anak-cucu dan jm
Yogya 7 Pebruari 2016


Sumber : https://www.caknun.com/2016/anak-asuh-bernama-indonesia/


Ia saudaraku. Tetap Saudaraku Daur # I No.06

Ia Saudaraku. Tetap Saudaraku

 •   •  Dibaca normal 3 menit

Sesungguhnya saya pribadi tidak bisa terima bahwa semua orang sekampung memberikan gelar yang tak bisa ditawar lagi kepada saudara saya itu: brutal, radikal, fundamentalis, bahkan teroris, tidak berperikemanusiaan, dan segala macam gelar yang terburuk.

Benar sekali ia brutal. Ia radikal. Ia fundamentalis. Pada saat-saat tertentu ia melakukan sesuatu yang membuat ia disebut teroris.

Tetapi, itu semua, ada sebabnya.

Itu semua, adalah akibat, yang merupakan produk dari sebab.

Wahai saudara-saudara para penduduk  dan pemerintah di kampungku, serta wahai saudara-saudaraku seluruh ummat manusia, juga wahai para Jin, Setan, Malaikat dan semua jenis makhluk ciptaan Tuhan di bumi maupun di mana saja: itu semua, ada sebabnya. Itu semua, adalah akibat, yang merupakan produk dari sebab.
***

Sebabnya adalah penjajahan, tipu daya dan pembodohan yang dilakukan oleh sebagian penduduk dunia atas sebagian penduduk lainnya di dunia. Demikian juga oleh sebagian penduduk kampung atas penduduk lainnya di kampung.

Penjajahan yang semua terang-terangan, kemudian penjajahan yang disamarkan, dan sekarang penjajahan yang wujudnya sama sekali bukan penjajahan, sehingga yang dijajah justru merasa dijunjung dan disantuni. Yang terakhir itu bisa berlangsung karena cara utama penjajahan mutakhir adalah tipu daya melalui pendidikan, hukum, kebudayaan dan kepalsuan-kepalsuan politik. Bisa sedemikian mulus dan dominannya penjajahan dan tipu daya itu karena syarat strategis untuk menjalankannya, yakni proses pembodohan global, melalui penguasan-penguasan nasional, regional dan lokal – berjalan sangat mulus.

Metode dan strategi yang paling mendasar dari penjajahan yang wujudnya adalah santunan dan kasih sayang, adalah pola berpikir yang disembunyikan oleh para penjajah. Yakni pola Dajjalisme, yakni tipu daya atas cara berpikir manusia sedunia: “Neraka diyakinkan sebagai sorga, dan sorga diyakinkan sebagai neraka”.
***

Bahkan tahukah Anda bahwa pada waktu-waktu terakhir sekarang ini, kecanggihan penjajahan, tipu daya dan pembodohan itu membuat saudara brutalku itu sering mengutuk dan mengamuk kepada justru kami sekeluarganya sendiri.

Saudaraku itu seakan-akan pembenci para penjajah, tetapi sasaran amukannya adalah keluarganya sendiri. Saudaraku itu tepat ketika menyatakan bahwa “selama ketidakadilan ini tak berhenti menimpa penduduk kampung dan ummat manusia di bumi, maka kemarahanku ini adalah kewajaran hidup”. Tetapi tetap saja sasaran amukannya adalah keluarga kami sendiri.

Para penguasa tipudaya dan lingkaran-lingkaran rahasianya di kampung kami sejak lama mengkawatirkan ketangguhan hidup keluarga kami. Terutama karena ketangguhan itu, di samping berasal dari jenis karakter kemanusiaan kami, juga diperkuat oleh kepercayaan yang dianut oleh keluarga kami.

Maka satu-satunya jalan untuk melawan itu adalah dengan mengadudomba kami sekeluarga. Dari soal-soal yang kecil-kecil hingga tema-tema yang besar dan mendasar keluarga kami diprovokasi dan diadudomba. Hasilnya dua. Pertama, keutuhan keluarga diretakkan. Kekuatan kepercayaan kami dilunturkan.

Demikianlah maka yang berlangsung kini adalah tuduhan terburuk menimpa saudaraku, dan nama baik seluruh keluarga kami dicoreng-moreng semena-mena semau-mau para penipu daya. Dengan situasi seperti itu, maka mereka dengan mudah merampok kekayaan-kekayaan kami secara tersamar melalui berbagai cara yang diterapkan oleh penguasa dunia, yang pelaksana lapangannya adalah para penguasa di kampung kami.
***


Dengan ini aku menyatakan dua hal kepada siapa saja, terutama kepada pelaku penjajahan, tipu daya dan pembodohan pada skala seberapapun dan pada level apapun.

Bahwa saudaraku si brutal itu adalah saudaraku, dan tetap saudaraku.

Aku dan keluargaku tidak sependapat dengannya dalam sangat banyak hal yang mendasar maupun yang tidak mendasar. Tetapi ia tetap saudaraku.

Aku dan keluargaku sangat tersiksa oleh perilakunya dan ada saat-saat kami kehabisan kesabaran atasnya, tetapi ia adalah saudaraku. Dan tetap saudaraku.

Aku dan keluargaku sangat banyak bertentangan dalam hal nilai-nilai kemanusiaan, kealamsemestaan dan ketuhanan. Dan situasi itu bisa saja membuat kami akan berkelahi bahkan berperang sendiri di antara kami. Tetapi ia adalah saudaraku. Dan tetap saudaraku.

Di antara aku dan keluargaku sendiri menjadi korban dari perilakunya, sampai ke tingkat nyawa. Tetapi ia adalah saudaraku. Dan tetap saudaraku.

Kalau ia berlaku salah, kalau ia mengamuk, kami sekeluargalah yang paling menderita. Dan biarlah kami sekeluarga yang menanganinya. Para tetangga tidak usah mengejeknya, jangan mentertawakannya, jangan menghina dan merendahkannya.

Aku memaafkan almarhum saudaraku yang suka bersama para tetangga mentertawakan saudaraku itu. Aku memaafkan, melupakan dan menghapusnya.

Akan tetapi, ini hal kedua yang saya nyatakan: para tetangga yang meneruskan tertawa terbahak-bahak, mengejek, melecehkan, merendahkan dan menghina saudaraku dan kami sekeluarga, kunyatakan bahwa besok pagi ada matahari, dan segala sesuatunya belum selesai.

Dari cn kepada anak-cucu dan jm
6 Pebruari 2016


Sumber: https://www.caknun.com/2016/ia-saudaraku-tetap-saudaraku/

Hati Telanjang Kepada Tuhan Daur # I No.5

Hati Telanjang Kepada Tuhan

 •   •  Dibaca normal 2 menit

Setelah dua puluh satu tahun putus asa
Sesudah hampir meledak dada dan pecah kepala
Tersisa hati telanjang kepada-Nya
Setelah dua puluh satu tahun salah sangka
Sesudah kebusukan demi kebusukan
Tak kunjung sampai ke puncaknya
Tergeletak jiwa tak berdaya di hadapan-Nya

Berdengung-dengung tanpa henti di kepalaku
Siapa yang menghaturkan “Doa Memohon Kutukan” itu
Selain hamba bodoh penganiaya diri sendiri
Yang Tuhan mengasihaninya
Yang para Malaikat memprihatininya
Yang Para Nabi dan Rasul menangisinya
Dan Iblis Setan mentertawakannya

Hambalah itu yang lalim kepada diri hamba sendiri
Hamba si hina dina
Hamba kafir yang takabur
Fakir yang putus asa
Menindihkan gunung ke punggungnya
Menimpakan alam semesta ke pundaknya
Membesar-besarkan diri dengan tanggungan yang tak sanggung disangganya

Berdengung-dengung memecah kepalaku
Kibriya’ taruh di atas kepala seluruh berat beban dunia dan alam semesta
Keangkuhan mempertahankan tegaknya pohon-pohon-Mu di dunia
Wahai Tuhan Mutakabbir yang takabbur adalah jubah-Mu
Betapa sederhana yang Engkau tunggu dari hamba-Mu
Padahal di dalam nurani dan akalku, nasehat-Mu amat sederhana
Bertindaklah semampumu saja. Tak usah berjuang membela-Ku
Karena engkaulah yang membutuhkan keselamatan di depan kuasa-Ku

Wahai Maha Dermawan, terimalah kesombonganku sebagai penghaturan kesetiaan
Terimalah putus asaku sebagai batas perwujudan cinta
Terimalah tangis cemas hamba, kecemasan dalam keyakinan hamba
Bahwa siapapun saja yang menggerakkan kaki dan tangannya
Untuk menumbangkan pohon-pohon-Mu, Engkau akan lumpuhkan gerakannya
Engkau giring agar mereka bertabrakan dengan patung-patung batu
Dengan berhala tahayul dan monumen materi, bangunan mereka sendiri

Wahai Maha Merdeka, Engkaulah sumber dan asal usul
Segala ilmu yang mereka namakan ‘demokrasi’ dan ‘independensi’
Di mana setiap hamba bukanlah dirinya, melainkan wujud perbuatannya
Tak ada pahala tak ada dosa selain dari perbuatannya sendiri
Tetapi apabila mereka bersekutu menutupi kemerdekaan absolut-Mu
Engkau perkecil jumlahnya, Engkau kacaukan perkumpulannya
Engkau pecah belah karena tidak adil pikirannya

Wahai Rahman cinta-Mu meluas tak terhingga
Wahai Rahim yang kasih sayang-Mu mendalam tiada tara
Sepenuh-penuhnya hak-Mu segala santunan atau kutukan
Semata-mata milik-Mu kegembiraan atau kesengsaraan
Lumpuh hatiku menyaksikan para pemakan bangkai
Yang menikmati penderitaan saudara-saudarinya sendiri
Tetapi kuyakini keadilan dan pembalasan-Mu

Engkau lumpuhkan kaki para pendusta persaudaraan
Para pemalsu wajah dan para saudagar cinta
Para penunggang keledai kesetiaan dan kuda kepatuhan
Jika Rabiah memuaikan badannya hingga memenuhi neraka
Takkan Engkau biarkan mereka memenuhi bumi, kota dan desa pasar dan jalanan, kantor, gedung-gedung, darat dan lautan
Karena dengan mudah Engkau perluas neraka-Mu
Engkau potong tangan mereka yang menghina ketulusan-Mu

Engkau robek-robek tirai dusta dan tipu daya mereka
Engkau putus-putus dan obrak-abrik tali jaringan kebohongan semesta mereka
Demikianlah hamba bertelanjang hati
Cukup sudah kesabaran-Mu atas para penyelingkuh cinta-Mu
Takkan lagi Engkau perkenankan keleluasaan
Bagi kebudayaan, politik dan peradaban yang bertakabur kepada-Mu

Engkau sesakkan nafas para pelakunya, Engkau  bikin cemas hati mereka
Engkau buntu pikiran mereka, Engkau macetkan mesin syirik lingkar katulistiwa
Engkau buka kedok kebodohan para cerdik pandai
Engkau lunglaikan dan bumerangkan setiap rumusan rekayasa
Engkau kuakkan semua yang mereka rahasiakan
Engkau hentikan setiap kereta pemerintahan manusia
Yang tidak mengantarkan para penumpangnya ke rumah ridlo-Mu

Wahai maha pencipta, maha penata, maha penghampar karya agung
Jauhkanlah kemenangan dari hamba-hamba yang tak menghamba
Yang menegakkan keunggulan dengan modal kehinaan
Wahai gelapkan gedung-gedung mereka
Runtuhkan kantor-kantor mereka
Nerakakan rumah-rumah mereka
Ambrukkan tembok-tembok mereka

Wahai demikianlah puncak karier hamba
Hamba pengemis yang berjongkok di depan gerbang-Mu
Hamba persembahkan ketidakberdayaan dalam perjuangan
Hamba haturkan keterpurukan dalam peperangan
Hamba pasrahkan tak terusirnya putus asa dalam iman
Hamba tangiskan ketidaksabaran dalam penantian
Sisa kekhalifahan hamba tinggal hati yang telanjang

Dari cn kepada anak-cucu dan jm
Yogya 5 Pebruari 2016.


sumber https://www.caknun.com/2016/hati-telanjang-kepada-tuhan/