Reformasi NKRI, 1
![]() | ||
https://www.caknun.com/2018/reformasi-nkri-1/ |
Reformasi NKRI, 2
• Reformasi NKRI
Kepada Jamaah Padhangmbulan 11 Mei 1998 itu Cak Nun berpesan: “Saya pamit ke Jakarta agak lama. Mungkin ada asap mesiu, kegaduhan, penjarahan dan perubahan besar, semoga ke arah yang lebih benar dan baik”
Kepada Jamaah Padhangmbulan 11 Mei 1998 itu Cak Nun berpesan: “Saya pamit ke Jakarta agak lama. Mungkin ada asap mesiu, kegaduhan, penjarahan dan perubahan besar, semoga ke arah yang lebih benar dan baik”
![]() |
https://www.caknun.com/2018/reformasi-nkri-2/ |
Reformasi NKRI, 3
Reformasi NKRI, 4
![]() | |||
https://www.caknun.com/2018/reformasi-nkri-4/ |
Reformasi NKRI, 5
Cak Nun ada di tengah penembakan, kerusuhan dan penjarahan Reformasi. Sampai hari ini masyarakat, sejarawan, wartawan, cendekiawan dan hampir semua kalangan Bangsa Indonesia tidak benar-benar tahu apa yang sebenarnya berlangsung. Juga tidak ingin tahu, apalagi mencari tahu dan meneliti. Para pelaku di spotlight sejarah 1998 bahkan tidak mengerti siapa yang menjarah mereka. Karena kebanyakan mereka kemudian bergabung ramai-ramai ikut menjarah NKRI, sampai hari ini
![]() |
https://www.caknun.com/2018/reformasi-nkri-5/ |
Reformasi NKRI, 6
Siapa pelaku penembakan di Trisakti?
Satuan apa saja yang menculik dan aktivis siapa saja yang diculik?
Apa yang Suharto takut dan ngeri?
Bagaimana kronologi sehingga Suharto legowo untuk lengser?
Siapa yang mengetuk hatinya dan membimbingnya turun tahta?
Siapa yang Suharto taati menjadi Imam-nya?
Siapa yang membuatnya aman dan tak tersentuh hingga akhir hayatnya?
Hampir semua pihak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan prasangka, kebodohan, kemunafikan dan ambisi untuk menjadi seribu Suharto sebagaimana yang mereka prasangkakan.
Reformasi NKRI, 7
16 malam, Cak Nun bersama Cak Nur, Pak Malik Fajar, Mas Oetomo Dananjaya dan Mas Drajat merumuskan empat prosedur lengsernya Pak Harto dengan meminimalisir korban dan memaksimalkan efektivitas kenegaraan.
17 siang. Konferensi Pers di Hotel Wisata mengungkap usulan agar Pak Harto mundur. Cak Nun membaca An-Nur 35, hadirin menangis.
18. Usulan diajukan melalui Mensekneg Saadillah Mursyid. Pak Harto setuju, tapi minta ditemani. Jam 20.00 Pak Harto telpon Cak Nun dan Cak Nur, “Mohon kita ketemu besok untuk menyiapkan agar lengsernya saya tidak menimbulkan guncangan dan korban”.
19 pagi. Mereka bertemu di Istana Negara. Cak Nun pinjam sepatu Pak Bariman, sekarang Guru SMA Muhammadiyah Denpasar.
![]() |
https://www.caknun.com/2018/reformasi-nkri-7/ |
Reformasi NKRI, 8
Pak Harto minta 4 orang dilengkapi menjadi 9 orang dari para sesepuh, termasuk KH Ali Yafi dan Gus Dur.
Cak Nun dan Cak Nur meneguhkan saran agar Pak Harto turun dari jabatan Presiden.
Pak Harto tertawa lebar ketika Cak Nun berempati dengan mengemukakan, “Pak Harto tidak jadi Presiden kan ora pathèken. Wong sudah 32 tahun menjabat.”
Cak Nur menambah: “Bukan hanya ora pethèken, tapi sudah tuwuk”. Itu bahasa Jombang untuk “sangat puas sampai hampir bosan”.
Sesudah Pak Harto lengser, idiom “ora dadi Presiden ora pathèken” menjadi satu-satunya fakta yang diingat oleh rakyat Indonesia tentang Reformasi 1998.
![]() | |
https://www.caknun.com/2018/reformasi-nkri-8/Reformasi NKRI, 9
Yang diketahui oleh para wartawan, dunia pers serta kaum penggali dan penyebaran informasi — sehingga sekadar demikian juga yang diketahui oleh publik Indonesia dan dunia — tentang Reformasi 1998 adalah peristiwa pukul 09.00 pagi di Istana Negara ketika Pak Harto mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan Presiden.
Ibarat pernikahan, peristiwa itu hanyalah resepsi. Bukan negosiasi dan prosesi akad nikahnya. Betapa awam dan malangnya dunia jurnalistik dan masyarakat yang mempercayainya.
https://www.caknun.com/2018/reformasi-nkri-9/
Reformasi NKRI, 10
Kok BJ Habibie naik ke kursi Presiden? Konsep yang disepakati dengan Pak Harto: beliau lengser, Kabinet MPR DPR bubar, 45 anggota Komite Reformasi termasuk Gus Dur berdiri sebagai MPR-Sementara. Tugasnya mengangkat Kepala Negara Sementara, yang diamanati membenahi tata-konstitusi dan menyelenggarakan Pilpres dalam waktu setahun.
Rupanya “G-Boys” bekerja subversif di belakang layar dan menyederhanakan Reformasi dengan mengangkat Habibie. Dan para “reformis” ikut rekayasa itu daripada hilang dari orbit. Maka yang lahir bukan Bayi Reformasi, meskipun semua kalangan dalam dan luar negeri mengkhayalkan bahwa peristiwa Mei 1998 di Indonesia itu adalah Reformasi.
Tanggal 22 Mei 1998 Cak Nun tinggalkan semua kepalsuan itu dan berkeliling Nusantara.
https://www.caknun.com/2018/reformasi-nkri-10/
Reformasi NKRI, 11
Kekuasaan di sebuah Negara tidak boleh vakum. Lyndon B Johnson dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat baru di pesawat 2 jam sesudah John F Kennedy meninggal ditembak di Dallas.
19 Mei 1998 pagi itu, kalau Pak Harto pingsan di tengah pertemuannya dengan 9 orang, atau terdiam lebih satu menit, atau memberi kode pengambilalihan kekuasaan, maka bom meledak.
Di sekitar area Istana Negara, 16 bom diletakkan di 8 titik Jalan Tol dan 8 Pom Bensin. Pertemuan itu dimonitor di layar di dalam sebuah Tank, dengan seorang pemegang remote dan seorang lainnya pemegang komandonya. Karena mereka tidak tahu persis apa yang terjadi hari-hari itu dengan Pak Harto dan pergolakan jantung kekuasaan NKRI.
Tapi bom tidak pernah meledak. Pak Harto tertawa-tawa menghayati “ora dadi Presiden ora pathèken”.
https://www.caknun.com/2018/reformasi-nkri-11/
Reformasi NKRI, 12 Si Pakar Bom itu bertanya: “Cak kok Sampeyan tidak jadi Menteri pasca Suharto? Waktu memonitor dari dalam Tank pembicaraan Sampeyan dengan Pak Harto 19 Mei pagi itu saya membayangkan sebentar lagi Sampeyan pasti menjabat, misalnya Menteri Pertanian”. Saya jadi sadar pada kebodohan saya yang sama sekali tidak pernah berpikir tentang karier dan jabatan. Tapi saya diam-diam bangga dia membayangkan saya menjadi Menteri bukan urusan Sosial atau Agama, melainkan Pertanian. Dia bukan pelaku politik, melainkan pelaku tugas kemiliteran di tengah konstelasi politik yang dia tidak paham secara menyeluruh. Dia adalah sahabat seorang Jenderal besar, yang desersi dari militer karena kecelakaan dalam suatu kejadian ketika bersekolah militer di luar negeri. Dia harus berhenti sebagai prajurit, meskipun sahabatnya tetap berkarier politik karena beliau adalah keluarga penguasa tertinggi. https://www.caknun.com/2018/reformasi-nkri-12/ Reformasi NKRI, 13Konsep Pemerintahan Orba bubar, MPRS, Kepala Negara Sementara, Pemilu secepatnya, refreshing total kepemimpinan nasional–digagalkan oleh nafsu, ketergesaan dan rasa tidak percaya diri. Dari 45 anggota Majelis Permusyawaratan Sementara itu hanya 3 orang yang “Orba”: Pak Harto, Jendral Wiranto dan Akbar Tanjung. Tapi yang 42 orang dianggap pasti kalah oleh 3 orang. Cak Nur dan Cak Nun dianggap “diatur untuk menjadi alat Suharto”, padahal dua orang ini yang berhadapan langsung dengan Pak Harto dan membuatnya rela lengser. Cak Nur ngambek, Pak Harto patah hati dan Cak Nun meludah dan bikin Hamas (Himpunan Masyarakat Shalawat). 20 tahun sesudah itu, ternyata Wiranto yang Orba menjadi Menteri di era dan Kabinet yang “sangat reformasi”. Alangkah malang nasib rakyat Indonesia, hidup dalam dusta dari era ke era. https://www.caknun.com/2018/reformasi-nkri-13/ Reformasi NKRI, 14Dalam catatan pribadi Cak Nun, 19 Mei 1998 adalah Hari Khayal Nasional, 20 Mei 1998 adalah Hari Jegal Nasional. Khayal karena hari itu adalah momentum utama berakhirnya sejarah Orba, untuk memasuki Khayal Reformasi. Para Sejarawan, Wartawan, Ilmuwan, Peneliti dan Pemerhati di sebelah manapun mengungkapkan khayalnya masing-masing tentang apa yang sebenarnya terjadi pada 19 Mei 1998, yang dimulai dari 16 Mei 1998 malam hari. Sampai hari ini di media apapun, di jurnal-jurnal ilmiah, skripsi dan disertasi tentang Reformasi NKRI 1998, tidak mengandung fakta-fakta yang penulisnya haqqulyaqin, ‘ilmulyaqin, apalagi ‘ainulyaqin. Sungguh 19 Mei kemarin adalah Hari Khayal, Hari Fiksi, Hari Dhonn, Hari Ngawur Nasional.
https://www.caknun.com/2018/reformasi-nkri-14/
Reformasi NKRI, 1520 Mei 1998 disebut oleh Cak Nun tidak hanya Hari Jegal Nasional tapi juga Hari Dengki Nasional. Komite Reformasi yang sudah mengkonsep reformasi topdown, memangkas seluruh jajaran kepemimpinan Nasional, dijegal oleh tokoh utama Reformasi siang pukul 14.00 20 Mei 1998 itu sehingga mati sebelum bersemi. Cak Nurkholish Madjid bukan seorang politisi, sehingga punya hati, dan hatinya terluka, ia mundur dari otoritas Ketua Komite Reformasi. Sementara Pak Harto patah arang. Andaikan dia tahu idiom Qur’an itu, pantas ia ucapkan: “Salamun ‘alaikum la nabtaghil jahilin”, aku ucapkan selamat tinggal, aku tidak punya waktu untuk mengurusi orang-orang bodoh”. Reformasi berakhir tanpa pernah tumbuh. Presiden dan Kabinet baru dilantik oleh subversi sebagian pemain-pemain Orba. Para “Reformis” palsu numpang di “truk” Pemerintahan baru itu dengan mendesak dan “menyandera” Habibie untuk menjadi Menteri. Cak Nun mendengar sendiri di tengah pertemuan mereka memperbincangkan uang pensiun andaikan menjadi Menteri hanya beberapa bulan — sehingga Cak Nun langsung berdiri dan keluar dari pertemuan itu untuk mengambil keputusan “Keliling bikin Gerakan Shalawatan”. Mereka juga dengki “kok anak kecil itu yang berhasil ngomongin Suharto untuk turun dari jabatannya”. Hari itu Pak Harto memohon Cak Nun “menjadi Imam saya”. https://www.caknun.com/2018/reformasi-nkri-15/ Reformasi NKRI, 16Tanggal 20 Mei 1998. Sesudah Komite Reformasi gagal bekerja, dan kemudian berdirilah Orde Baru seri-2 yang lebih parah, dengan “ribuan Suharto” merajalela–Cak Nun setengah memaksa Cak Nur untuk bikin garis nasional yang prinsipnya adalah “Jangan biarkan Habibie menjadi Presiden dengan check kosong”. Minimal ada semacam ikatan ke depan untuk mengais sisa keselamatan bangsa. Maka Cak Nun berlima bikin pernyataan “Habibie Presiden Transisional”. Bukan Presiden permanen. Pukul 10 malam Cak Nun mengetik konsep yang ditanda-tangani oleh lima orang itu, teman-teman mengundang wartawan dalam dan luar Negeri untuk konferensi pers di Jl Indramayu 16 Menteng Jakarta pukul 11 malam. Cak Nun bertugas memberi pengantar lisan bahwa besok pagi Pak Harto akan mengumumkan pengunduran dirinya, kemudian Cak Nur akan membacakan pernyataan resmi tentang “Habibie Presiden Transisional”. Tiba-tiba Cak Nur langsung berdiri membacakannya, dan diakhiri dengan “Tertanda: Nurcholish Madjid, Amien Rais“. Kelak andaikan bertemu di sorga, Cak Nun akan sempatkan bertanya kenapa kok tertanda beliau berdua, bukan lima orang yang menandatanganinya. https://www.caknun.com/2018/reformasi-nkri-16/ Reformasi NKRI, 17Cak Nun menuliskan konsep Sumpah yang ditanda-tangani oleh Pak Harto. Intinya, pertama, bersumpah legowo lengser dan tidak akan berusaha untuk menjadi Presiden atau berkuasa kembali. Kedua, tidak akan turut campur terhadap setiap upaya Negara untuk memilih Presiden atau pemimpin nasional baru. Ketiga, bersumpah siap diadili oleh Pengadilan Negara untuk mempertanggungjawabkan kesalahan-kesalahanannya selama 32 tahun menjadi Presiden, termasuk menjalani hukuman yang diputuskan oleh Pengadilan Negara. Keempat, bersumpah siap mengembalikan kepada Negara harta dan apapun saja yang diklaim oleh Pengadilan Negara. Cak Nun mengumumkan Empat Sumpah Suharto ini dan tidak ada pihak yang tertarik, terutama pers dan pihak-pihak yang dianggap oleh publik sebagai Reformis. Pun tak pernah ada pengadilan Negara atas Suharto, tak ada demo atau serangan ke Cendana. Sampai Pak Harto dipanggil Allah dalam keadaan aman, tenang dan damai. Tidak ada fakta yuridis maupun hukum kenegaraan yang menyatakan bahwa Suharto bersalah dengan Orde Barunya. Reformasi 1998 NKRI adalah salah satu kebohongan besar dan dusta luar biasa yang pernah terjadi dalam sejarah dunia. https://www.caknun.com/2018/reformasi-nkri-17/ Reformasi NKRI, 18CAKNUN.COM • • Dibaca normal 1 menit Reformasi NKRI“Dalam posisi sekarang ini Pak Harto bicara apa saja tidak akan dipercaya oleh pihak manapun di panggung politik Indonesia. Tetapi Tuhan punya konsep dan sikap yang berbeda tentang hidup manusia. Tuhan membuka peluang dan jalan bagi manusia untuk berkembang atau berubah. Manusia itu makhluk dinamis, tidak seperti Malaikat. Allah menyediakan konsep Husnul Khatimah bagi setiap manusia yang hendak mengubah dan memperbaiki dirinya”. Demikian Cak Nun mengemukakan kepada Pak Harto. Kemudian mereka menyepakati acara “Ikrar Husnul Khatimah” yang dijalankan oleh Pak Harto di Masjid Baiturrahman komplek DPR Senayan Jakarta. Ikrar itu diajukan Pak Harto kepada Allah, karena Reformasi dan kehidupan politik Indonesia tidak mengenal konsep itu. Media massa, koran-koran, entah bagaimana asal usul dan motifnya, memberitakan bahwa yang akan Cak Nun selenggarakan untuk Pak Harto itu adalah acara “Tobat Nasional”. Akhirnya diputuskan, karena toh Ikrar itu ditujukan kepada Tuhan, maka di Masjid itu, di saat acara seharusnya dimulai, Cak Nun menelepon Pak Harto: “Pak Harto menjalankan Ikrar di rumah saja sesuai dengan panduan yang sudah kita sepakati. Tidak perlu datang ke sini, sebab bukan hanya tidak ada manfaatnya, bahkan menambah fitnah”. Kemudian di depan publik Cak Nun berkata kepada para wartawan: “Acara saya batalkan. Saya persilahkan siapapun saja menyiapkan pengadilan kepada Pak Harto, agar beliau mempertanggungjawabkan kesalahan-kesalahanannya. Dan kapan saja nanti, begitu pengadilan atas Suharto itu digelar, insyaallah saya akan potong telinga saya…” https://www.caknun.com/2018/reformasi-nkri-18/ Cak Nun bercerita: “Malam hari setelah paginya Pak Harto lengser, saya hadir ke pertemuan para tokoh kelas satu NKRI. Mereka para jagoan, pemimpin-pemimpin. Sebagian dikenal independen, sebagian lain sejumlah orang yang barusan mengundurkan diri dari jabatan Menteri. Kalau ada istilah Kabinet Sejarah, mereka yang berkumpul di ruang itulah anggota Kabinet Sejarah Reformasi Indonesia. Merekalah senior-senior Bangsa Indonesia. Merekalah cendekiawan elit dan aktivis Reformasi utama. Ketika bareng naik lift tadi, tiga orang berdebat tentang kira-kira berapa bulan mereka andaikan jadi Menteri baru besok, dan berapa uang pensiunnya. Tatkala sampai ke ruangan tempat pertemuan itu, saya terhenti dalam posisi berdiri di bawah bingkai pintu masuk. Saya tidak sanggup melangkahkan kaki untuk memasuki ruangan. Terbentur oleh pandangan mata mereka semua. Sorot mripat beliau-beliau itu, serta aura wajah dan nuansa urat saraf ekspresi mereka–merupakan tembok beton tebal yang membentur dan membuntu badan saya. Saya memasuki semacam wilayah makrifat gelapnya hati manusia, oleh kedengkian dan kemunafikan. Saya mendengar suara masing-masing dari balik sorot mereka. Sangat jelas dan terang benderang. Tetapi itu tidak bisa direkam oleh ilmu maupun teknologi apapun. Bahasa akademisnya: itu bukan fakta objektif, itu hanya asumsi subjektif. Bahasa gaulnya: Ah, itu hanya perasaan Adik saja… Saya tidak jadi masuk ruangan untuk ikut pertemuan. Saya balik badan dan ngeloyor pulang. Novia istri saya kaget kok saya pulang cepat. Saya bilang: Hati para penghuni Negeri ini, terutama para elit dan menengahnya, terlalu sempit untuk kita masuki dan memuat kita. Maka kita yang harus memperluas ruang jiwa dan semesta hidup kita, agar bisa memasukkan mereka semua ke dalam mulut kita sebagai camilan sejarah. Mulai hari ini kita harus latihan sliliten kepalsuan Reformasi“ https://www.caknun.com/2018/reformasi-nkri-19/ Reformasi NKRI, 20Cak Nun: “Setelah batal mengikuti pertemuan yang dalam pandangan saya bermuatan ketidakmurnian dan kemunafikan itu, saya tidur sangat nyenyak. Karena merasa merdeka dari kewajiban mendukung Reformasi, yang ternyata memang tidak ada dan tidak pernah terjadi. Sebagai warga negara sudah lumayan saya sedekahkan diri selama hari-hari di sekitar lengsernya Suharto. Berada di kegaduhan Trisakti, chaos penjarahan-penjarahan, pelototan dan pertengkaran psiko-politis antara satuan-satuan Tentara dengan kelompok-kelompok mahasiswa, tahlilan 3 hari, 7 dan 40 hari korban penembakan Trisakti, pertemuan-pertemuan menyusun formula dan strategi beralihnya kekuasaan dari Suharto ke sesudahnya, lalulintas pengamanan di Pecinan Kelapa Gading, ulang-alik Istiqlal dengan Hankam, dan berbagai macam adegan lagi. Mestinya sudah sangat mencukupi sedekah nasional itu, kalau dilihat dari posisi saya yang hanya warga negara biasa, bukan tokoh nasional, bukan aktivis pergerakan, bukan pemimpin Agama atau pemuka masyarakat, bukan operator politik, bukan bagian dari National Guard atau apapun. Menurut saya pribadi sudah sangat lumayan, dan alhamdulillah Reformasi hanya palsu, sehingga saya tidur nyenyak…” SAMBUNGAN SILAKAN LANJUTKAN MEMBACA ke REFORMASI NKRI #2 |