Minggu, 12 Mei 2019

=Daur 027 Pertengkaran Cekeremes

Daur-II • 027

Pertengkaran Cèkèrèmès

“Kenapa harus perang malam hari? Bukankah jumlah kita mayoritas di Negeri ini?”, Toling bertanya. Kemudian secara spontan anak-anak muda itu mengungkapkan pandangan-pandangannya.
“Satu orang yang pegang senapan, yang di sakunya ada sejumlah granat, dan di saku lainnya tersimpan kunci gudang-gudang makanan, bisa mengendalikan seratus orang di hadapannya”
“Mayoritas tidak terutama ditentukan oleh jumlah orangnya, melainkan oleh penguasaan terhadap perangkat-perangkat kekuasaan dan logistik serta fasilitas-fasilitas lainnya”

“Ada mayoritas kuantitatif, ada mayoritas kualitatif. Kita diperdaya dan dibikin percaya kepada yang pertama. Kita merasa besar dan bisa menang karena jumlah kita banyak. Padahal kunci kekuatan dan kekuasaan tidak di genggaman tangan kita”

Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar“. [1] (Al-Baqarah: 249). Rupanya Junit tidak bisa menahan diri untuk tidak mengungkapkan firman itu.

“Itu sudah lama terjadi”, Seger merespon, “di mana kita jumlahnya sangat banyak dikalahkan oleh segelintir orang. Karena kita terlena secara kolektif. Merasa berkuasa di kampung sendiri. Kita sibuk bertengkar di antara kita dengan tema-tema cèkèrèmès yang sangat tidak primer dan tidak urgen. Sebagai hamba Allah kita tidak menghimpun hasil ijtihad untuk mengekspresikan rahmatan lil ‘alamin dalam politik, perekonomian, dan kebudayaan. Untuk ummat kita sendiri sajapun Agama yang dahsyat ini belum bisa kita wujudkan sebagai rahmat dan berkah. Kita dikasih Nur, tapi berperilaku Dhulumat….”.


=Daur 026 Allah Yang Melempar


Daur-II • 026

Allah Yang Melempar

Dengan kecerdasannya masing-masing, simulasi pikiran dan imajinasi kreatif, anak-anak muda itu mencari “perang malam hari”.

“Perang dalam keadaan gelap”, kata Toling, “tidak kelihatan ada peluru akan datang, apalagi senapan dan penembaknya”

“Tidak bisa diukur jauh atau dekat kecuali dengan kepekaan telinga dan rasa”, sambung Jitul, “skala medan perang hanya bisa diperkirakan berdasarkan informasi sebelum gelap”

“Kalau diserang belum tentu bisa diidentifikasi penyerangnya”, Junit meneruskan, “kalau menyerang juga tidak boleh ketahuan asal usulnya”

“Pertempuran tanpa jejak”, suara Seger, “tidak ada sesumbar, tidak ada teriakan, tidak ada takbir atau pekikan, tidak ada tanda-tanda lewat suara atau media informasi lainnya apapun”

 “Perang malam hari diperlukan oleh pasukan yang jumlah maupun mesiu dan perangkat-perangkat perangnya kalah dari lawan”, Toling juga meneruskan, “maka pelajaran utama adalah menahan diri, membungkam mulut dari sesumbar dan meneriakkan amarah-amarah….”
Ndusin menyela. “Mudah-mudahan yang terjadi adalah — maka sebenarnya bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. Allah berbuat demikian untuk membinasakan merek) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [1] (Al-Anfal: 17).

=Daur 025 Perang Malam Hari

  

Daur-II • 025

Perang Malam Hari

Tiba-tiba Sundusin menoleh kepada Junit, Toling, Jitul, dan Seger.
 “Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”. [2] (An-Nisa: 62)
Ya kan. Ndusin ternyata malah lebih getol Iqra` nya.
Brakodin tidak mau kalah. “Anak-anak, tolong sampaikan kepada Paklik kalian Sundusin bahwa Mbah Markesot dihubungi oleh seorang Kiai, yang mengemukakan bahwa dalam shalat istikharahnya Rasulullah berkenan untuk menerima keinginannya untuk berjumpa. Kiai itu meminta fatwa tentang Negeri dan Bangsanya, dan Rasulullah katanya menjawab: ‘Harbul-lailah’. Perang malam hari. Kiai menjawab ‘Siap, Kanjeng Nabi’, dan bertanya “menang atau kalah?’, Rasulullah tegas menjawab ‘menang’…. “

Semuanya, Junit, Jitul, Toling, Seger, bahkan Sundusin sendiri terperangah. Mereka berpandangan muka satu sama lain. “Perang? Perang malam hari?”. Mereka termangu-mangu beberapa lama.



=Daur 024 Himpunan Kebaikan dan Cinta


Daur-II • 024

Himpunan Kebaikan dan Cinta

Brakodin menyatakan bahwa Markesot bukan kaliber manusia yang bisa mengatasi masalah-masalah yang begitu besar. Dia tidak punya modal apa-apa untuk tugas mustahil itu. Kalau boleh terus terang, masalah pribadi dan dalam rumahnya sendiri saja Cak Sot seperti retak-retak kepalanya. Jangankan Cak Sot sendiri, 100 atau 1000 Markesot berhimpun jadi satu pun tak akan punya kemampuan untuk menyelesaikan masalah bangsa dan Negara.

“Saya bukan sedang berpendapat bahwa Cak Sot mampu menyelesaikan masalah, Cak Din”, kata Ndusin, “Cak Sot sendiri sejak dahulu kala sudah menjelaskan proporsinya. Yakni bahwa manusia bekerja dan berjuang tidak untuk mencapai sesuatu, melainkan agar menjadi bagian dan himpunan kebaikan dan energi cinta, yang membuat Tuhan bermurah hati membuat sesuatu tercapai pada kehidupan orang yang berjuang dan berbuat baik”

“Ya”, Brakodin menanggapi, “tetapi para penggede yang merapat ke Cak Sot sebenarnya hanya mengincar dan mengupayakan agar Cak Sot menjadi bagian dari kebenaran subjektif mereka. Agar Cak Sot mendukung apa yang mereka lakukan. Mereka hanya mencari stempel untuk melegitimasi kebenaran mereka sendiri. Mereka butuh backup batiniyah dan kerakyatan dari anggukan kepala Cak Sot. Itu bukan penyelesaian masalah. Justru itu adalah penguatan atas kepentingan sepihak dari kelompok yang berkuasa.…”

“Cak Sot pasti sembunyi”, Sundusin tertawa.
Brakodin menjawab: “Dan orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa bencana seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu”. [1] (Al-Mu`min: 30).




=Daur 023 Firman Di Ujung Lidah



Daur-II • 023

Firman di Ujung Lidah

“Lho bukan pamer ayat”, jawab Brakodin, “biarkan anak-anak membiasakan diri menemukan peran Tuhan di dalam detil-detil kehidupan. Saya angon irama mereka. Kita ini orang tua. Tidak akan memaksa anak-anak muda untuk menjadi bebek-bebek yang harus memaklumi dan mematuhi penyakit-penyakit jiwa kita.…”

Brakodin melihat mungkin Ndusin sendiri lupa dan tak sengaja banyak muatan pikirannya yang bersumber dari firman-firman. Dia lupa bahwa yang barusan ia khawatirkan, yakni “dibiarkan oleh Malaikat mati menganiaya diri” adalah fenomena yang diinformasikan oleh Tuhan sendiri. Apa Ndusin pikir itu ide eksploratif pikirannya sendiri.

Akhirnya Sundusin tersenyum. “Gini lho Cak Din”, katanya, “saya sudah terlanjur menikmati cerita Sampeyan tentang Cak Sot mulai dijawil-jawil seperti jaman mau Reformasi dulu. Jawilan dari sisi-sisi jala sampai akhirnya mulai pusat jala. Bagaimanapun saya senang dong kalau Cak Sot bisa ikut menyelesaikan masalah bangsa ini”

Brakodin tertawa. “Tidak bisa”, katanya tegas, “Cak Sot tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah bangsa. Orang-orang munafik itu memanggil orang-orang mukmin seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu? Mereka menjawab: Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu kehancuran, dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh syaitan yang amat penipu…..”. [1] (Al-Hadid: 14).

“Itu firman tho, Cak Din? Ayat Allah to?”
“Lho mana ada kebaikan yang muncul dari ujung lidah manusia kecuali bersumber dari Allah?”.

=Daur 022 Mati Menganiaya Diri





Daur-II • 022

Mati Menganiaya Diri

“Saya serius tentang pembicaraan kita yang tidak pernah tuntas. Dialog kita ini kabur kanginan. Diterbangkan oleh naluri dan selera ke angkasa yang tak menentu”, Ndusin mengulangi protesnya, “Pakde kalian Brakodin belum selesai bicara soal Presiden, pindah ke tenaga kerja di luar negeri. Padahal dua bulan terakhir ini, sampai hari ini, Mbah kalian Markesot terus menerus dikejar untuk ditemui ini itu”

Semua seperti sepakat untuk membiarkan Sundusin mengomel. Biarkan ia Iqra` semaunya. “Negara sedang rusak oleh kelakuan pengurusnya sendiri. Mereka terjebak di dalam jebakan yang mereka ciptakan sendiri. Mereka terjerumus ke dalam ranjau yang mereka gali sendiri. Kaki mereka terserimpet oleh tali-tali yang mereka rajut sendiri. Mereka kebingungan oleh pukat ambisi mereka sendiri….Salah-salah kita semua ini akan menjadi orang yang oleh para Malaikat dibiarkan mati dalam keadaan menganiaya diri.…”. [1] (An-Nisa: 97).

Tapi Brakodin ternyata memotongnya. “Sin, sabarlah. Kita semua kebingungan. Bahkan Cak Sot juga semakin kebingungan, ditabrak oleh buangan masalah-masalah. Tetapi jangan kita rayakan kebingungan ini di depan anak-anak kita yang pasti lebih kebingungan lagi….”

“Lha Sampeyan lompat-lompat”, Ndusin membantah, “belum selesai cerita tentang Menteri-Menteri, Presiden dan para penggede merapat, yang sebenarnya masih panjang ceritanya sampai hari ini. Lantas pindah ke TKI. Belum selesai TKI, belum dijaringkan dengan pahlawan-pahlawan kita yang bekerja di sejumlah Negara lain, yang sangat berbeda-beda karakter dan pengalamannya. Apalagi dengan pelajar dan mahasiswa kita di sana-sini, dan itu sebuah pemandangan keIndonesiaan yang tidak kalah mengasyikkan. Lantas pembicaraan melebar ke pamer ayat-ayat.…”.






=Daur 021 Ditimpa dan Musibah


Daur-II • 021

Ditimpa dan Musibah



Ndusin yang sejak tadi seperti tertidur di pojok ruang, tiba-tiba bersuara. “Ini omong apa saja. Tema berpindah-pindah, berganti-ganti, kesana kemari tak ada remnya. Ayat lagi, Iqra` lagi.…”
Padahal ternyata kemudian Ndusin ber-Iqra` juga.

“Pantas kita tidak pernah mencapai apa-apa dalam kehidupan kita”, Ndusin meneruskan, “kalau membicarakan sesuatu tidak pernah tuntas. Satu soal belum selesai, pindah ke lainnya. Selalu setengah matang. Tidak pernah memuncak, karena tidak jelas pijakannya. Tidak pernah ke ujung, karena tidak jelas pangkalnya. Mbok kalau sudah ‘inna lillahi’ dituntaskan sampai ‘ilaihi roji’un’….”
Tarmihim tertawa cekakakan. “Ini gara-gara Junit sejak tadi mengutip-ngutip ayat Qur`an, terus kita semua terpengaruh dan terseret. Sekarang Pakde kalian Ndusin tidak mau kalah. Tapi dia tahunya yang Arab-Arab cuma inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”. [1] (Al-Baqarah: 156).

Sundusin tak mau diremehkan. “Lho inna lillahi wa inna ilaihi roji’un kan merupakan pedoman utama kehidupan manusia. Route dan skema perjalanan hidup kan lillahi kemudian ilaihi. Prinsip itu ringkas padat dan jelas. Kalau satu kalimat pendek itu saja dipegang teguh dalam kesadaran, maka kaki pasti melangkah di jalan lurus dari Tuhan menuju Tuhan”
“Pakdemu Sundusin ini hidupnya penuh musibah. Maka ia sangat peka terhadap ayat itu. “Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”.
“Anak-anak coba buka jendela lebih lebar”, Sundusin merespon, “musibah adalah sesuatu yang menimpa. Tidak harus sesuatu yang mencelakakan. Begitu kita lahir, kita ditimpa oleh kelahiran. Sepanjang hidup ini, setiap detik, kita ditimpa dan terus ditimpa….”.